Postingan Terbaru

Membuat Rengginang

Rengginang merupakan salah satu makanan tradisional khas nusantara yang sudah dikonsumsi sebagai makanan ringan maupun makanan utama sejak lama. Pada awalnya merupakan makanan yang dibuat dari sisa nasi yang tidak habis, dan daripada terbuang sia-sia makanan tersebut dikeringkan dengan dijemur lalu digoreng sehingga menjadi sejenis kerupuk yang dihidangkan sebagai teman menu utama maupun hidangan di…

Pos Blog Pertama Saya

Jadilah diri sendiri; Diri orang lain sudah ada yang memiliki. — Oscar Wilde. Inilah pos pertama di blog baru saya. Saya baru saja memulai blog baru ini, jadi ikuti terus untuk melihat konten lainnya. Berlangganan di bawah untuk mendapatkan pemberitahuan ketika saya mengeposkan pembaruan terbaru.

Perkenalkan Diri Anda (Contoh Pos)

Ini adalah contoh pos yang aslinya dipublikasikan sebagai bagian dari Blogging University. Ikuti salah satu dari sepuluh program kami, dan mulai buat blog dengan tepat. Anda akan memublikasikan pos hari ini. Jangan khawatir dengan tampilan blog Anda. Jangan khawatir jika Anda belum memberinya nama, atau merasa bingung. Cukup klik tombol “Pos Baru”, dan beri tahu…

DESA MARONGGE YANG SEJUK BERIMAN SEJAHTERA  MAJU KREATIF BERBUDAYA DAN IMAN

Desa Marongge
Kab Tomo Kec Sumedang
Provinsi Jawa Barat

Senin, 10 February 2020


Tahun Survey

2020



Berpenduduk

1.732



Laki-laki

878



Perempuan

852



Kepala Keluarga

611


Akses Menuju Desa Marongge
• Dari arah Sumedang Kota naik angkutan perkotaan 02 atau elf tujuan Majalengka, berhenti di Tugu Mangga Gedong Gincu dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan pedesaan 41 atau menggunakan ojek setempat. Estimasi waktu kurang lebih 90 menit.
• Dari arah Majalengka/Kadipaten menggunakan angkutan umum yang melewati jalan Kadipaten, berhenti di Tugu Mangga Gedong Gincu dan melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan pedesaan 41 atau menggunakan ojek setempat.
• Dari arah Wado hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi, melewati jalan Lingkar Timur, Sumedang, dikarenakan belum tersedianya trayek angkutan umum untuk jalur baru ini.

Tentang Desa
Marongge

Desa Marongge merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang. Lokasi Desa Marongge berada di bagian timur wilayah kecamatan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Majalengka di aliran Sungai Cilutung. Jika dilihat dari pusat Kecamatan, posisinya berada di sebelah tenggara dengan jarak sekitar delapan kilometer.

VISI

DESA MARONGGE YANG SEJUK BERIMAN , SEJAHTERA  MAJU KREATIF BERBUDAYA DAN IMAN

MISI

( 1 )      Meningkatkan sarana dan prasarana pertanian
( 2 )      Perkembangan agro bisnis berbasis kelompok
( 3 )      Pengembangan ekonomi masyarakat
( 4 )      Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Perangkat Desa & Lembaga Desa
( 5 )      Meningkatkan sarana dan prasarana keagamaan
( 6 )      Meningkatkan pelayanan dan kenyamanan kepada Masyarakat & sarana prasarana  Obyek wisata Ziarah Makam Keramat
( 7 )      Peningkatan Pendapatan Asli Desa ( PAD )
( 8 )      Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan keagamaan untuk peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh SWT

Legenda Desa

Desa Marongge di masa lalu merupakan area hutan belantara. Suatu ketika dimasa Kerajaan Mataram tinggalah empat sosok putri berparas cantik jelita yang tinggal di Kampung Babakan sebelah timur dan saat ini menjadi Dusun Marongge. Keempat putri cantik itu bernama Nyimas Gabug, Nyimas Setayu, Nyimas Naibah dan Nyimas Naidah. Kecantikan keempat putri ini bahkan terkenal hingga ke pelosok negeri, tak terkecuali Kerajaan Gubangkala Subang. Raja Gubangkala sangatlah tertarik dan penasaran dengan kecantikan keempat putri tersebut.
Pada suatu hari Raja Gubangkala memerintahkan patih dan punggawanya untuk menemui dan melamar Nyimas Gabug untuknya, akan tetapi para rombongan itu mendadak merasakan kantuk yang luar biasa sehingga mereka tertidur di daerah Panyaweian. Meskipun pada akhirnya rombongan itu berhasil menemui Nyimas Gabug, namun Nyimas Gabug menolak lamaran dari Raja Gubangkala.
Semakin lama semakin banyak pihak lain yang ingin menemui Nyimas Gabug, mereka memiliki niat yang sama dengan Raja Gubangkala, yaitu untuk melamar Nyimas Gabug. Namun tak ada satupun dari lamaran-lamaran tersebut yang diterima oleh Nyimas Gabug. Nyimas Gabug akhirnya memutuskan untuk mengadakan sebuah sayembara untuk memperebutkan dirinya. Ia memetik sebuah kukuk (sejenis buah labu) dan menghanyutkannya ke sungai Cilutung. Tantangan dari sayembara ini adalah barang siapa yang berhasil mengembalikan kukuk tersebut ke tempat semula, maka berhak untuk mempersunting Nyimas Gabug. Namun pada akhirnya tidak ada satu pihak pun yang berhasil menaklukan sayembara ini.
Semua orang yang berpartisipasi dalam sayembara tersebut mengaku kalah dan menyerah, mereka mengakui ketidaksanggupan mereka untuk mengembalikan kukuk tersebut ke tempat semula, namun mereka menuntut pembuktian dari Nyimas Gabug jikalau beliau memang mampu mengembalikan kukuk tersebut. Nyimas Gabug pun mengibarkan selendangnya sebanyak tiga kali sambil membacakan sebuah asihan (mantra) hingga akhirnya kukuk yang telah hanyut ke hulu sungai tiba-tiba kembali ke tempat semula (kukuk mudik).
Karena merasa jengah dan terganggu dengan banyaknya pihak yang terus-menerus berusaha untuk mempersuntingnya, Nyimas Gabug pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tinggalnya, tanpa memberitahu para saudaranya. Kepergian Nyimas Gabug mengejutkan saudaranya sehingga mereka mencari tahu dimana keberadaan Nyimas Gabug hingga berbulan-bulan tak kunjung ditemukan. Hingga sampailah mereka di sebuah bukit, disana mereka mendengar suara misterius yang berkata bahwasannya mereka tidak perlu mencari lagi dimana keberadaan Nyimas Gabug karena Nyimas Gabug berada di atas bukit tersebut. Suara misterius tersebut merupakan suara Mbah Haji Putih Jaga Riksa. Ternyata memang benar bahwa Nyimas Gabug sedang bertapa diatas bukit tersebut. Dengan keadaan lemah setelah berbulan-bulan bertapa, Nyimas Gabug meminta kepada para saudaranya untuk menggalikan sebuah lubang untuknya dan menempatkannya di dalam lubang tersebut. Nyimas Gabug meminta untuk menutupi lubang tersebut dengan ranting bambu (rengge). Dan tanpa di sangka-sangka, ketika menjelang malam (waktu maghrib) lubang tersebut memancarkan cahaya (marong). Dari sinilah kata marongge muncul. Marong yang berarti cahaya, dan rengge yang berarti ranting bambu. Jadi, nama Desa Marongge memiliki arti cahaya yang muncul dari celah-celah bambu. Dari situlah asal-usul nama marongge digunakan sebagai nama desa hingga saat ini.

Ketiga saudara Nyimas gabug pun ikut jejak kakanya melaksanakan tilem,tapa di dalam lubang yang sama ,sampai keempat putri tersebut  belum pernah menikah.dan sampai sekarang tempat tersebut banyak di kunjungi peziarah tiap pelosok negri ,apalagi kalau tiap malam jumat kliwon tidak kurang dari 1000 orang berziarah ke tempat itu, dan untuk  mencari asihan Si Kukuk Mudik, di makam tersebut terdapat lima makam keramat diantaranya

  1. EMBAH GABUG
  2. EMBAH SETAYU
  3. EMBAH NAIBAH
  4. EMBAH NAIDAH
  5. EMBAH HAJI PUTIH JAGA RIKSA

dan sekarang nama Marongge dijadikan sebuah nama Desa yaitu Desa Marongge.

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Tentang Kami

Phone :
Email :

Jadwalkan Kunjungan Pribadi.

Wisata Religi

1 Example Street,
Anytown, 10100
AS

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai